Renungan soal ojek online

Cerita tentang Ojek Online yang menjamur -
Saya adalah orang kuno untuk urusan ojek online ini.
Dari awal mereka bertumbuh, saya sempat berpikir bagaimana cara mereka profit ?
Bayangkan saja, perjalanan dari satu titik ke titik lainnya kalau kita diantar oleh ojek pangkalan akan di charge sekitar 20.000 misalnya, tetapi dengan ojek online hanya perlu mengeluarkan dana kurang dari setengah nya saja bahkan bisa lebih murah lagi.
Saya berpikir, untung darimana?
Kemudian, untuk dapat order sebuah ojek online kita wajib menginstall aplikasi terlebih dahulu dengan menyertakan data - data pribadi.
Wah, tunggu dulu.
Saya teringat beberapa tahun lalu. saban hari menerima sms bahkan telepon dari sales kartu kredit, asuransi dan sebangsanya ke nomor telepon pribadi saya. Mereka dapatkan nomor saya darimana?
Setelah saya selidiki, ternyata ada yang memperjualbelikan data pelanggan.
Apakah, tidak akan lebih berbahaya ketika kita mengisi aplikasi ojek online ini? Semua data Kita berikan gratis lengkap dengan nama, alamat, no telepon bahkan map dari alamat kita?
Akhirnya, saya putuskan untuk tidak pernah install aplikasinya. Sampai hari ini saya hanyalah manusia jadul untuk urusan ojek online
# TJ
Dibawah ini, adalah tulisan seorang teman yang bercerita tentang ojek online juga dari perspektif yang lebih dalam. Silahkan dibaca - baca untuk mempertajam minda.
####### ###### #######
Tanda tanya yang terjawab..?
GO Jek bukan menolong orang kecil, tapi memperalat orang kecil untuk membangun platform kapitalis.
Ternyata Goj*k mau jadi lembaga keuangan terbesar di Indonesia
Para penggiat UKM sejak 2 tahun lalu berpikir, Goj*k mau ngapain? Investornya mau ke mana buang² duit sampai ratusan milyar?
Operasional jalan sudah hampir 4 tahun, tapi tak pernah satu kalipun profit, namun investor berebut invest. Bahkan muncul pesaingnya, Grab (lippo) & Uber. Bisnis macam apa ini? investornya sudah pada gila, apa?
Jawabannya ternyata di bulan ini, Goj*k di beli Tencent, pesaing kuat Alibaba (Jack Ma). Tencent beli Goj*k 1,2 Billion USD, atau setara dengan 16,2 trilyun rupiah. Jelas ini pasti bukan perusahaan tukang ojek biasa.
Goj*k ternyata mau jadi lembaga keuangan non bank terbesar di Indonesia. Dengan layanan go-pay, ia mau jadi konglomerasi e-money terbesar, mengalahkan e-money Mandiri, BNI, BRI sekalipun.
Menurut riset lembaga survei JakPat pada Desember 2016 lalu, persentase penggunaan GoPay di Indonesia telah mencapai 27,1 persen, berada di urutan keempat setelah Mandiri e-Money (43,8 persen), BCA Flazz (39,1 persen), dan Telkomsel T-Cash (29,1 persen).
Abang² ojek cuma jadi alat Goj*k untuk mencapai tujuannya. Intinya adalah transaksi.. transaksi.. transaksi.
Segala jenis produk yang dikeluarkan, ujungnya untuk meningkatkan transaksi dan database pelanggan.
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, kuasai informasi kuasai dunia. Namun tambah lagi, kuasai perputaran uang, anda kuasai seluruh dunia.
Itulah yang dilakukan Jack Ma. Kuasai e-commerce, lalu buat J&T, perusahaan logistik keren 1 hari sampai. Buat apa? Buat melihat lebih jeli peta pergerakan uang dan transaksi di grass root. Dan apa selanjutnya?
Sebentar lagi Jack Ma akan buat perusahaan e-money di Indonesia, mungkin Alipay akan buka cabang segera di sini. Kita lihat saja nanti.
Ujungnya, mereka semua akan membuat lembaga keuangan non bank, untuk kuasai transaksi, database, dan dunia.
Siapa yang menguasai informasi akan menang dalam persaingan di abad ke 21
KUASAILAH TRANSAKSI AKAN MENGUASAI DUNIA.
===========
Source : https://m.cnnindonesia.com/teknologi/
20170505090826-185-212445/diguyur-duit-dari-china-gojek-kini-bernilai-rp38-triliun/
- Bang Dzul -
- edited by TJ -

0 comments:

Post a Comment