Mata Air Bier Utsman 1 di Lereng Merapi
Mewakili pengurus Mualaf.com
bersama Komunitas Mualaf Jogja kegiatan pertama hari ini meresmikan Mata Air Bier Utsman, di lereng merapi.
Dimana sebelumnya air pernah dikuasai gereja, saudara kita kaum muslim harus membayar dan bersusah payah mendapat air..
Alhamdulillah Allah memudahkan iktiar kita sudah memiliki sumber mata air sendiri dan air mengalir disalurkan dengan pipa sepanjang 12 km mengelilingi dusun di lereng merapi ini...
Air ini gratis bagi masyarakat (apapun agamanya) inilah implementasi Islam Rahmatan Lil Alamin. Kita tidak dapat menciptakan air.
Sudah sepantasnya kita sebagai makhluk Allah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan-Nya, yaitu atas air yang telah diciptakan-Nya sebagai sumber kehidupan makhluk-Nya.
Bukankan di jaman Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu kita sebelum memiliki mata air ini juga harus membeli air ?
“Wahai sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapatkan surgaNya Allah Ta’ala.” (HR. Muslim)
Bagaimana kalau kita pahami tawaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut diatas juga untuk kita jaman ini, untuk membeli sumur-sumur yang dikuasai Yahudi di seluruh dunia kemudian me-waqfkan-nya untuk umat? Tentu akan ideal sekali apabila ini bisa kita lakukan.
Bukankah sekarang yang memperdagangkan air mayoritasnya juga Yahudi baik in person maupun in sistem ?
Bukankah perintah Nabi semua harus kita ikuti dan semua larangannya harus kita jauhi?
وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“….apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah…” (QS: al-Hasyr:7)
Karenanya kami meneladani 'transaksi' Usman dengan Allah. Sebuah perdagangan di jalan Allah dan untuk Allah telah berlangsung selama lebih 1400 tahun ini di contohkan Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu..
Umat Islam yang kaya dan mampu membeli sumur atau mata air jangan malah ikut-ikutan menjual air.
Maka disinilah pelajaran yang sesungguhnya – bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, penjelasan dari petunjuk-petunjuk itu dan pembeda! ( QS 2 :185).
Kisah waqf sumur Utsman memberi contoh nyata bagaimana pembeda ini bekerja secara riil di lapangan.
Bila Yahudi dan Nashrani menjual air, kita tidak ikut-ikutan menjual air – tetapi mencari mata air, mengalirkannya dan menggratiskannya!
Karena Islam Rahmatan Lil Alamin..
Allahu Akbar !!
0 comments:
Post a Comment